Bi: Mata Uang Bitcoin Rawan Untuk Basuh Uang

Bi: Mata Uang Bitcoin Rawan Untuk Basuh Uang


Jakarta - Bank Indonesia (BI) masih terus mengkaji lebih jauh mengenai mata uang digital Bitcoin yang cukup fenomenal. Bank sentral meragukan mata uang Bitcoin alasannya dapat dipakai untuk 'cuci uang' alias money laundering.

"Bitcoin ini sudah mewabah di AS, China, India, dan Australia. Dan pada pada dasarnya tidak ada yang mengawasi dan cenderung susah dilacak peredaran dan siapa saja yang bertransaksinya," ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Difi Johansyah ketika dihubungi, Jumat (13/12/2013).

Dijelaskan Difi, sejauh ini BI telah menemukan dua merchant yang sudah mengatakan penggunaan Bitcoin. "Tapi di luar Jawa semua," kata Difi.

Dalam transaksi Bitcoin, tidak memakai perantara, atau tanpa bank. Selain itu, tidak ada komisi atau biaya manajemen untuk tiap transaksi. Setiap pembeli juga tidak perlu mengatakan nama asli.

Dikatakan Difi, BI mencari lebih jauh tentang Bitcoin dari sisi legalitas dan landasan aturan di Indonesia. Hal ini juga sebagai bentuk kontribusi nasabah.

"Kita ingin lihat landasan aturan penggunaan Bitcoin ini sebagai alat pembayaran. Karena sebagai alat tukar yang sudah beredar dan tidak ada pengawasnya Bitcoin ini rawan jadi kawasan basuh uang," katanya.

BI sendiri belum dapat menciptakan larangan atau aturan mengenai Bitcoin di Indonesia. BI akan mengkaji lebih jauh dan berkoordinasi dengan otoritas moneter negara lain dalam hal penggunaan Bitcoin.




Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2