Uang Sakti Bitcoin Anjlok, Dari Rp 10 Juta Jadi Rp 6 Jutaan Dalam Sehari

Uang Sakti Bitcoin Anjlok, Dari Rp 10 Juta Jadi Rp 6 Jutaan Dalam Sehari


Jakarta - Fluktuasi nilai tukar bitcoin kembali terbukti. Kali ini nilai tukarnya anjlok dari awalnya sekitar Rp 10 jutaan menjadi hanya Rp 6 jutaan. Koreksi ini terjadi hanya dalam satu hari.

Seperti dikutip dari data perdagangan nilai tukar bitcoin di Mt. Gox, Selasa (17/12/2013), sampai pukul 11.10 WIB nilai bitcoin berada di US$ 698 dengan titik terendahnya di US$ 678 dan tertinggi US$ 919. Rentang yang cukup lebar antara titik tertinggi dan terendah.

Bandingkan dengan posisi kemarin yang nilainya berada di kisaran US$ 900 bahkan mendekati US$ 1.000. Berdasarkan pantauan detikFinance, hanya dalam hitungan menit saja, harga bitcoin dapat melompat naik atau anjlok sebanyak US$ 20-50 (Rp 200.000-500.000).

Kabarnya pelemahan ini akhir larangan terbaru dari People's Bank of China (PBOC) yang tidak akan melayani bisnis pihak ketiga yang memfasilitasi jual beli memakai bitcoin.

Salah satu kontributor New York Times di China menyampaikan semua mata uang digital pun terkena koreksi akhir larangan gres ini, salah satunya yakni Litecoin.

"PBOC tidak suka akan hal ini, juga tidak mau mata uang digital menjadi spekulatif tidak terperinci menyerupai kini ini. Sulit sekali kalau menentang PBOC," katanya menyerupai dikutip dari Business Insider.

Sebelumnya perbankan di China juga sudah mengeluarkan larangan terhadap bitcoin ini dengan tidak memproses setiap transaksi yang memakai bitcoin. Nah, larangan gres ini meminta pihak ketiga yang selama ini berafiliasi dengan perbankan di China untuk ikut menolak transaksi bitcoin.

Dengan demikian para pengguna bitcoin yang hanya dapat bertransaksi melalui sesama trader atau miner langsung. CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan mengungkapkan, pasar di China kini sangat memilih naik turunnya Bitcoin. Pasalnya, 59% lebih bitcoin beredar di China.

"Ada rilis dari China bahwa ada fee khusus dan larangan soal Bitcoin. BTCChina salah satu daerah penukaran Bitcoin di China membebankan 0,3% trading fee. Sehingga menyebabkan penurunan harga," kata Oscar kepada detikFinance.

Menurutnya, jikalau terjadi sesuatu terhadap Bitcoin di China maka pergerakannya direspons secara global. "China paling kuat alasannya yakni transaksi per harinya itu mencapai Rp 1 triliun," kata Oscar menambahkan.

Bitcoin ini, sambung Oscar pergerakan harganya ditentukan oleh seruan dan penawaran. Ketika seruan Bitcoin tinggi maka sudah niscaya harganya pun melambung.

"Tetapi aku yakin tidak akan mencapai US$ 200 per 1 Bitcoin," tuturnya.

"Kejadian menyerupai ini terjadi pada 5 Desember. Itu pun terjadi alasannya yakni China mempertegas posisi Bitcoin. Nanti biasanya bounce back sehabis keadaan normal," imbuh Oscar.





Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2