Benarkan Bitcoin Ganggu Stabilitas Rupiah? Ini Balasan Trader

Benarkan Bitcoin Ganggu Stabilitas Rupiah? Ini Balasan Trader


Jakarta - Mata uang virtual Bitcoin mulai menarik perhatian Bank Indonesia (BI) untuk terus dikaji perkembangannya. Salah satu risiko yang ditakutkan dari keberadaan Bitcoin ialah pengaruhnya terhadap nilai tukar rupiah. Bagaimana berdasarkan para trader?

CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan yang merupakan salah satu trader terbesar di Indonesia menyatakan Bitcoin tak akan menciptakan nilai tukar melemah. Pasalnya, Bitcoin dalam definisinya ialah media transfer dan bukan mata uang.

"Bitcoin bukan currency tapi media transfer atau komoditas. Ini dipakai kurang dari 10 menit. Makara tidak akan besar lengan berkuasa terhadap nilai tukar. Biaya transfer itu sangat murah. Rp 2000 untuk transfer.," ujarnya kala berbincang dengan detikFinance, Selasa (21/1/2013)

Dalam prakteknya Bitcoin tetap akan mengacu kepada nilai tukar utama yaitu rupiah. Apalagi untuk dipakai dalam transaksi di dunia nyata. Bitcoin tetap harus ditukarkan dengan rupiah. Meskipun ada fluktuasi jawaban supply dan demand.

"Jadi tidak akan melemahkan rupiah," tegasnya.

Bahkan berdasarkan Oscar, dapat saja rupiah terbantu menguat dengan Bitcoin. Sebab kalau ada aturan yang cepat dan tepat, maka akan mengundang investor untuk tiba ke Indonesia membawa devisa.

Seperti halnya dengan Singapura yang ketika ini tengah menyempurnakan aturan dari peredaran Bitcoin. Mulai dari prosedur transaksi sampai pengenaan pajak terhadap mata uang virtual tersebut.

"Justru ini akan menguatkan rupiah. Karena aturan Bitcoin dari aneka macam negara masih dikerjakan. Kalau seandainya kita dapat lebih cepat. Seperti yang dilakukan Singapura. Investor ajaib akan melirik aturan yang sudah ada," paparnya.

Ia tetap mengembalikan hal ini ke Bank Indonesia (BI) sebagai regulator. Oscar bersama rekannya telah berdiskusi dengan pihak departemen sistem pembayaran BI sehari sebelumnya. Semoga kajian BI mendukung perkembangan Bitcoin.

"Tapi kita kembali ke BI. Kita kemarin kan diajak diskusi santai," jelas Oscar.

Sebelumnya European Banking Authority (EBA) menekankan ada beberapa risiko dalam larangan soal Bitcoin ini, antara lain mudahnya 'dompet digital' disusupi virus atau peretas sehingga uang investor, katakanlah Rp 10 miliar, dapat menguap dalam hitungan detik tanpa ada jaminan dapat kembali lagi sepeser pun.

Selain itu, kawasan atau pihak yang memfasilitasi transaksi Bitcoin juga dapat kena serangan hacker atau gulung tikar tiba-tiba sehingga banyak orang yang selama ini menggunakan jasanya kena kerugian. Kerugian ini tentunya tidak dapat dilaporkan alasannya ialah tidak ada payung hukumnya.

Sementara itu Gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserve, Ben Bernanke, menilai Bitcoin dapat jadi alat tukar yang berguna, kalau saja dapat diatur dengan baik dan disalahgunakan untuk tindak pembersihan uang menyerupai selama ini.

Yang diuntungkan dari fluktuasi nilai Bitcoin ini ialah investor, sedangkan pemerintahnya was-was. Karena selama ini dedemit dunia maya menggunakan Bitcoin untuk acara ilegal, menyerupai basuh uang atau jual beli narkoba dan senjata.




Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2