Larang Bitcoin, Bi Keluarkan Imbauan Hati-Hati

Larang Bitcoin, Bi Keluarkan Imbauan Hati-Hati


Jakarta -

Bank Indonesia (BI) resmi mengeluarkan pernyataan perihal mata uang virtual Bitcoin yang tengah 'happening' di seluruh dunia. BI menyatakan Bitcoin bukan alat pembayaran yang sah.

"Memperhatikan Undang-Undang No 7 Tahun 2011 perihal Mata Uang serta UU No. 23 Tahun 1999 yang lalu diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009, Bank Indonesia menyatakan bahwa Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia," ungkap Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs dalam siaran persnya, Kamis (6/2/2014).
 
BI memberikan imbauan, semoga masyarakat berhati-hati terhadap cryptocurrency tersebut. "Masyarakat diimbau untuk berhati-hati terhadap Bitcoin dan virtual currency lainnya. Segala risiko terkait kepemilikan/penggunaan Bitcoin ditanggung sendiri oleh pemilik/pengguna Bitcoin dan virtual currency lainnya," terperinci Peter.

Seperti pernah dibahas di detikFinance, fenomena Bitcoin ini memang menghebohkan otoritas moneter dan dunia maya. Mata uang ini dipakai untuk membeli banyak sekali macam jenis barang secara internasional dari ponsel hingga mobil.

Bitcoin merupakan mata uang digital yang diperkenalkan di dunia pertama kali pada 2009 oleh seorang tak dikenal yang memakai nama alias Satoshi Nakamoto. Dalam transaksi Bitcoin, tidak memakai perantara, atau tanpa bank. Selain itu, tidak ada komisi atau biaya manajemen untuk tiap transaksi. Setiap pembeli juga tidak perlu menunjukkan nama asli.

Saat ini, sudah banyak merchant yang mendapatkan transaksi Bitcoin. Dengan mata uang digital ini, Anda sanggup membeli pizza, biaya memasang website, hingga barang-barang lainnya.

Bitcoin juga dinilai sebagai transaksi yang sederhana dan murah, sebab pembayaran tidak terikat pada negara tertentu dan tanpa regulasi. Pelaku perjuangan mikro sangat menyukai transaksi menyerupai ini sebab tidak ada biaya kartu kredit. Sejumlah orang hanya membeli Bitcoin sebagai investasi, dan berharap nilainya sanggup meningkat dalam waktu tertentu.

Sayangnya, mata uang virtual membuat daya tarik bagi para penjahat cyber, pelaku money laundering dan banyak sekali jenis kejahatan lainnya.

Maka dari itu beberapa negara, menyerupai Korea Selatan dan China, sudah melarang penggunaan Bitcoin dalam bertransaksi. Otoritas negara lain menyerupai Prancis dan Thailand pun sudah was-was mengenai peredaran mata uang gres yang dikenal 'sakti' ini.


Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2