Hantu Hacker Di Balik Runtuhnya Kerajaan Bitcoin

Hantu Hacker Di Balik Runtuhnya Kerajaan Bitcoin

Unjuk rasa di depan bekas kantor Mt. Gox, di Jepang. (foto: Reuters)Unjuk rasa di depan bekas kantor Mt. Gox, di Jepang. (foto: Reuters)

Jakarta -

Di tengah kontroversi penemu Bitcoin yang menyeruak, dunia baru-baru ini diguncang oleh ambruknya dua perusahaan penukaran Bitcoin. Setelah Mt. Gox dari Jepang, giliran Flexcoin, perusahaan asal Kanada, yang menyatakan berhenti beroperasi, pada selesai pekan lalu.

Sebagaimana Mt. Gox, Flexcoin juga menyalahkan ulah 'hantu' peretas komputer alias hacker atas kebangkrutan mereka. Flexcoin menyebutkan mereka telah mengalami kerugian hingga 440 ribu euro gara-gara ulah itu.
 
Flexcoin menyatakan telah terjadi serangan yang mengeksploitasi sebuah celah dalam arahan transfer Bitcoin antar nasabah, sehingga membanjiri sistem dengan permintaan-permintaan simultan untuk memindahkan koin antar akun.

Flexcoin bilang, itu bukan serangan perdana. Selama ini sudah terjadi ribuan upaya serangan kepada mereka, tapi Flexcoin bilang masih dapat mengatasi. Sampai balasannya terjadi serangan baru-baru ini yang kemudian menciptakan mereka menyerah.

Lantas bagaimana Mt. Gox ambruk? Perusahaan penukaran Bitcoin yang terbesar di dunia itu juga diserang peretas. Pada 7 Februari kemudian mereka memblokir upaya penarikan yang dilakukan nasabahnya. Lalu pada 28 Februari mengumumkan kebangkrutannya dengan kerugian mencapai 850 ribu bitcoin.
 
Oscar Darmawan, CEO Bitcoin Indonesia, menilai kebangkrutan Mt. Gox dan Flexcoin bekerjsama disambut positif kalangan Bitcoin. Dia menilai, kedua perusahaan yaitu referensi yang membangun sistem secara setengah-setengah.

“Mt. Gox itu kan awalnya didirikan untuk berdagang kartu game, jadi celah di sistemnya banyak sekali,” kata Oscar kepada detikFinance hari ini, Senin (10/3). “Sementara belum pernah ada yang berhasil menyerang protokol Bitcoin, alasannya yaitu sangat aman, bahkan lebih kondusif dari kartu kredit.”

Oscar mengatakan, kedua perusahaan itu yaitu mirip toko emas di dunia nyata. Kaprikornus kebangkrutan toko emas tak serta merta berarti bahwa Bitcoin ikut ambruk. Sebaliknya, menurutnya, pasca bangkrutnya dua perusahaan penukaran itu, Bitcoin justru makin perkasa.

Pada ketika gonjang-ganjing Mt. Gox, nilai tukar Bitcoin memang sempat turun hingga menjadi Rp 5,9 juta per Bitcoin. Tapi pasca pengumuman kebangkrutan, nilai tukar Bitcoin justru naik terus hingga menjadi Rp 7 juta per Bitcoin pada hari ini.

Pengamat menilai, semua 'kegilaan' yang terjadi di sekitar Bitcoin bukan perihal Bitcoin itu sendiri, melainkan perihal manusianya. “Bitcoin-nya sendiri bekerja dengan sangat baik,” kata Matthew Green, seorang kriptografer di Universitas Johns Hopkins.

Green menyampaikan pehobi maupun spekulator Bitcoin membangun generasi pertama sistem penyimpanan dan penukaran Bitcoin meski tak punya pengalaman yang diharapkan untuk menjalankan institusi keuangan.

“Seperti membangun pencakar langit dari kayu, itulah yang terjadi,” kata Green.

(DES/DES)

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2