Rugi Miliaran, Investor Ini Tetap Percaya Bitcoin

Rugi Miliaran, Investor Ini Tetap Percaya Bitcoin


Jakarta -

Rugi dalam jumlah besar tak pernah mudah. Begitu pun bagi Ken Shishido. Tapi selaku evangelist Bitcoin, kehilangan Bitcoin dalam jumlah besar tak membuatnya putus asa. Dia mengaku sudah siap melupakan kerugiannya ketika Mt. Gox, perusahaan penukaran Bitcoin itu, melarat pada final Februari lalu.

Shishido bilang, kehilangan itu ialah harga yang harus dibayar dalam merevolusi sistem keuangan global. Dia mengambil analogi kecelakaan kemudian lintas pada dikala pertama kali kendaraan beroda empat ditemukan. “Tapi kita tak melarang mobil, bukan?” katanya.

Shishido, yang menetap di Tokyo, ialah satu dari sekitar 1.000 investor Mt. Gox. Dia kehilangan sepersepuluh dari investasi Bitcoin-nya di perusahaan itu. Dia sudah tak mengharapkan investasi yang hilang kembali. Di sisi lain, ia bilang, nilai investasinya di Bitcoin selama ini sudah naik 10 kali lipat.

Investor lain yang tak kapok ialah Roger Ver. Dia bilang Mt. Gox hanyalah satu perusahaan yang menggunakan Bitcoin. Teknologi Bitcoin sendiri, kata dia, ialah luar biasa. “Meskipun penyedia jasa e-mail bermasalah, itu tidak berarti bahwa orang-orang berhenti menggunakan e-mail, bukan? Begitu juga dengan Bitcoin,” kata Roger Ver.

Nilai Bitcoin mulai melonjak pada April 2013 ketika krisis ekonomi membelit pemerintahan Siprus. Pada final 2013 Bitcoin makin dikenal dan makin diterima luas. Sejumlah orang populer pun berinvestasi di dalamnya, ibarat si kembar Cameron dan Tyler Winklevoss dari Facebook.
 
Popularitas Bitcoin kemudian berada di jalur menanjak. Investasi terhadap mata uang ini sedang banjir, meski ada gosip miring, yakni bangkrutnya dua perusahaan penukaran Bitcoin, serta tewasnya CEO perusahaan penukaran Bitcoin di Singapura.

Pasar global untuk Bitcoin diperkirakan telah mencapai US$ 7 miliar. Daftar merchant yang mendapatkan Bitcoin semakin panjang. Sejumlah kota di banyak sekali negara dikala ini sudah mempunyai automated teller machine (ATM) untuk mempermudah penukaran Bitcoin.
 
Di Jepang sendiri, pada pekan lalu, mulai dibahas regulasi soal Bitcoin. Kalau itu selesai, pemerintah Jepang menjadi yang pertama di dunia yang menetapkan regulasi khusus Bitcoin.
 
Pemerintah Jepang pun mencoba menerapkan pajak terhadap transaksi Bitcoin. Meski tak terang bagaimana hal itu akan dilakukan sebab transaksi Bitcoin kebanyakan terjadi secara anonim.
 
Sejumlah negara lain mencoba mengikuti jejak Jepang. Singapura malah lebih jauh, negeri ini sudah menarik pajak dari transaksi Bitcoin dan memakainya untuk membiayai pelayanan masyarakat. Singapura mendapatkan Bitcoin sebagai komoditas, bukan alat pembayaran.

Tapi, di sisi lain, ada juga sejumlah negara yang melarang transaksi dengan Bitcoin. Rusia misalnya, mendeklarasikan bahwa transaksi Bitcoin ialah ilegal. Pemerintah China juga melarang perbankan menangani perdagangan Bitcoin.

Di Indonesia lain lagi. Bank Indonesia beberapa waktu kemudian sudah menyatakan bahwa Bitcoin bukanlah mata uang dan alat pembayaran. “Tapi Bitcoin sanggup digunakan sebagai alat tukar ibarat emas atau pulsa,” kata Oscar Darmawan, CEO Bitcoin Indonesia, kepada detikFinance, hari ini.



(DES/DES)

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2