Bakal Ada Atm Bitcoin Di Bali, Bi: Tidak Ada Izin

Bakal Ada Atm Bitcoin Di Bali, Bi: Tidak Ada Izin


Jakarta - Bank Indonesia (BI) ikut menanggapi peredaran Bitcoin yang semakin marak di Bali. Apalagi sudah beredar voucher dan sebentar lagi 'ATM' Bitcoin di Pulau Dewata.

Menurut Juru Bicara BI Peter Jacobs, bank sentral tidak mengizinkan alat tukar selain rupiah untuk dipakai setiap transaksi di dalam negeri.

"Tidak boleh ada alat tukar lain selain rupiah. Termasuk Bitcoin. BI sudah melarang pengunaan dan peredarannya," katanya dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Kamis (4/9/2014).

Sehingga menurutnya tanggung jawab pengunaan mata uang digital alias cryptocurrency itu berada di masing-masing pengguna Bitcoin. Selain itu, BI juga belum memperlihatkan izin atas rencana pembukaan ATM Bitcoin.

"Tidak ada izin ke BI mengenai penggunaan ATM Bitcoin," ujarnya.

Namun Pendiri sekaligus CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan, menyampaikan 'ATM' Bitcoin yang dimaksud berbeda dengan ATM konvensional yang diatur BI. Menurut Oscar, 'ATM' ini lebih mirip vending machine untuk membeli Bitcoin.

"Ini bentuknya mirip vending machine yang sanggup dipakai untuk membeli Bitcoin," kata Oscar kepada detikFinance.

Selain 'ATM' Bitcoin, para pengguna mata uang yang nilainya selalu naik turun dalam rentang lebar ini juga sanggup memakai akomodasi voucher yang sanggup dibeli di kantor Bitcoin Indonesia.

Beberapa hotel dan restoran di Bali sudah mau mendapatkan Bitcoin. Itu salah satu alasan penggunaan Bitcoin sudah cukup marak provinsi sebelah timur Pulau Jawa ini.

Bitcoin merupakan salah satu dari banyak cryptocurrency yang beredar di dunia maya, juga salah satu yang paling beken. Beberapa negara ada yang sudah mendapatkan Bitcoin dengan merestui transaksi di beberapa perusahaan.

Namun ada beberapa negera yang menyatakan Bitcoin ilegal, salah satunya yaitu Tiongkok. Pasalnya, nilai Bitcoin selalu berfluktuasi dalam rentang yang sangat lebar.

Tahun kemudian saja, nilai Bitcoin sempat naik tinggi hingga lebih dari US$ 1.000 tapi hanya dalam beberapa hari nilainya pribadi anjlok ke US$ 200 per bit. Mata uang ini juga sempat dianggap kontroversional alasannya yaitu sering dipakai untuk transaksi ilegal mirip jual beli narkoba, senjata, hingga nonton pertunjukan bugil secara live.

Sejumlah kontroversi sempat menaungi Bitcoin di awal tahun. Dimulai dari bangkrutnya Mt. Gox, sebuah perusahaan penukaran Bitcoin asal Jepang pada simpulan Februari. Padahal 30% transaksi Bitcoin dunia dilakukan di perusahaan itu.

Tak usang kemudian giliran Flexcoin yang bangkrut. Perusahaan ini memang tak sebesar Mt. Gox. Namun situasi ini tak urung menyebabkan tanda tanya akan ketangguhan Bitcoin sebagai alat tukar.

Menurut Anda bagaimana, apakah Bitcoin sanggup menjadi alat tukar masa depan yang praktis? Atau Bitcoin terlalu berbahaya dan tidak akan bertahan lama? Kirim pengalaman Bitcoin Anda ke redaksi@detikFinance.com.


Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2