Penyebar Wannacry Minta Dibayar Pakai Bitcoin, Uang Jenis Apa Itu?

Penyebar Wannacry Minta Dibayar Pakai Bitcoin, Uang Jenis Apa Itu?

Penyebar WannaCry Minta Dibayar Pakai Bitcoin (Foto: Getty Images)Penyebar WannaCry Minta Dibayar Pakai Bitcoin (Foto: Getty Images)

Jakarta - Dunia dibikin heboh oleh serangan ransomware WannaCry (disebut juga WannaCrypt) yang menyerang 99 negara, termasuk Indonesia. Cyber terrorist ini menyerang sejumlah pihak dengan tujuan minta tebusan.

WannaCry sejatinya yakni software alias agenda komputer, ibarat MS Word, Acrobat Reader, Google Chrome, Winzip, dan lain-lain.

Namun alasannya yakni diciptakan untuk tujuan yang jahat dan membahayakan pengguna komputer maka ia dimasukkan ke dalam kategori agenda jahat atau sering disebut dengan malware (malicious software).

Sebenarnya kategori malware berbagai ibarat virus, trojan worm, rootkit, ransomware, dan sebagainya. Namun jenis malware yang terkenal 3 tahun belakangan ini yakni ransomware.

Disebut ransomware alasannya yakni sesuai namanya ia akan meminta uang tebusan (ransom) dari komputer yang diinfeksinya. Tentunya ada sesuatu yang berharga dari komputer yang sanggup disandera sehingga pemiliknya bersedia membayarkan sejumlah uang.

Tebusan yang diminta para teroris dunia maya ini berupa salah satu cryptocurrency bernama, Bitcoin. Apa itu tolong-menolong Bitcoin?

Seperti dikutip dari CNN, Senin (15/5/2017), Bitcoin merupakan mata uang digital yang diperkenalkan di dunia pertama kali pada 2009 oleh seorang tak dikenal yang memakai nama alias Satoshi Nakamoto.

Dalam transaksi, Bitcoin tidak memakai perantara, atau tanpa bank. Selain itu, tidak ada komisi atau biaya manajemen untuk tiap transaksi. Setiap pembeli juga tidak perlu memperlihatkan nama asli.

Saat ini, sudah banyak merchant yang mendapatkan transaksi Bitcoin. Dengan mata uang digital ini, Anda sanggup membeli pizza, biaya memasang website, hingga barang-barang lainnya.

Bitcoin juga dinilai sebagai transaksi yang sederhana dan murah, alasannya yakni pembayaran tidak terikat pada negara tertentu dan tanpa regulasi. Pelaku perjuangan mikro sangat menyukai transaksi ibarat ini alasannya yakni tidak ada biaya kartu kredit.

Sejumlah orang hanya membeli Bitcoin sebagai investasi, dan berharap nilainya sanggup meningkat dalam waktu tertentu.

Sayangnya, mata uang virtual membuat daya tarik bagi para penjahat cyber. Sudah banyak pihak menyalahgunakan Bitcoin, contohnya untuk jual-beli senjata, narkoba, hingga prostitusi.

Sebuah website belanja online, Silk Road, ditutup pihak berwajib Amerika Serikat alasannya yakni terbukti dipakai untuk perdagangan narkoba, senjata, software peretas website, bahkan jasa pembunuh bayaran.

Tidak ibarat uang pada umumnya, Bitcoin tidak ada fundamentalnya sehingga nilainya sanggup naik-turun sesukanya. Fluktuasinya pun sangat tinggi.

Misalnya, pagi hari nilai Bitcoin masih sekitar US$ 100 tiba-tiba saja sore hari melonjak ke US$ 1.000. Sementara besok pagi nilainya kembali turun drastis ke US$ 50.

Maka dari itu, banyak negara yang melarang Bitcoin dipakai dalam transaksi di dalam negeri, contohnya Rusia, Korea Selatan, China, dan lain-lain.

Semakin terkenal Bitcoin, semakin banyak pula cryptocurrency bermunculan, ibarat Dogecoin hingga Indocoin buatan anak bangsa.

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2