Ini Beda Uang Virtual Dan Uang Elektronik

Ini Beda Uang Virtual Dan Uang Elektronik

Foto: Getty ImagesFoto: Getty Images

Jakarta - Bitcoin yakni salah satu mata uang virtual yang paling tenar di dunia. Tapi apakah anda tahu bedanya uang virtual dan uang elektronik yang ada sekarang?

CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan menjelaskan uang elektronik mempunyai server jadi ada perusahaan penerbit dan penanggungjawabnya.

"Sistem uang elektronik itu transaksinya terekam di server pusat," kata Oscar kepada detikFinance, Senin (11/9/2017).

Uang elektronik yang ada ketika ini berbasis server dan berbasis chip. Contohnya, Sakuku oleh BCA, Mandiri eCash, Rekening Ponsel CIMB Niaga. Kemudian untuk berbasis chip eMoney milik Mandiri, TapCash BNI, Brizzi milik BRI, Flazz milik BCA, MegaCash milik Bank Mega dan JakCard milik Bank DKI.

Sedangkan mata uang virtual menyerupai Bitcoin seluruh sistemnya menurut rantai blok atau blockchain.

"Sehingga mulai dari penerbitan, cara transaksi maupun pencatatan semua tercatat di jaringan desentralisasi blockchain. Kaprikornus setiap orang dapat menjalankan server rantai blok ini," terperinci dia.

Dia menjelaskan, setiap masyarakat dapat menjalankan server Bitcoin dan setiap server saling terhubung di seluruh dunia.

Uang Virtual Bisa Dipakai Belanja Online?

Penggunaan Bitcoin dinilai kondusif untuk berbelanja online. Oscar mengatakan, laba memakai Bitcoin yakni mengurangi risiko pada ketika bertransaksi online.

"Jadi orang yang suka belanja orang minim risiko untuk terkena hack atau pencurian data sewaktu bertransaksi," kata Oscar.

Dia menjelaskan, ketika berbelanja online jikalau memakai kartu kredit, pembeli harus memasukkan nomor kartu kredit ke website. Tindakan ini dinilai rentan alasannya yakni berpotensi kebocoran data.

"Beberapa waktu kemudian ada situs belanja dijebol dan data kartu kredit customer-nya dicuri, nah kalau memakai Bitcoin alasannya yakni transaksinya memakai rantai blok atau blockchain secara otomatis sistem akan memverifikasi transaksi," ujar dia.

Dia menjelaskan, selain itu jaringan Bitcoin juga transparan sehingga waktu pembayaran pihak pembeli dan penjual biar sama-sama dapat memverifikasi transaksi.

"Jadi pembeli dan penjual tidak dapat membantah transaksi tersebut," ujarnya.

Oscar menjelaskan ketika ini keamanan Bitcoin sudah cukup teruji dan hingga kini menjadi salah satu jaringan yang paling kondusif secara enkripsi.

Meskipun aman, pengguna juga harus waspada dan berhati-hati alasannya yakni justru kebocoran timbul dari akun eksklusif atau password dalam ponsel dan laptop masing-masing.

"Jadi pastikan ponsel dan laptop yang dipakai higienis dari virus dan keylogger," ujarnya.

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2