Mengapa China Larang Transaksi Bitcoin?

Mengapa China Larang Transaksi Bitcoin?

Foto: Tim Infografis, Mindra PurnomoFoto: Tim Infografis, Mindra Purnomo

Beijing - Salah satu uang virtual alias cryptocurrency yang sedang populer, Bitcoin, sedang mengalami penurunan nilai tukar. Kebijakan China jadi alasannya.

Pemerintah China mengeluarkan kebijakan yang melarang transaksi initial coin offerings (ICO). Larangan tersebut dikeluarkan bukan tanpa alasan.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/9/2017), ada beberapa alasan Negeri Tirai Bambu melarang transaksi Bitcoin.


Mata uang virtual susah dikontrol
Nilai tukar Bitcoin naik dan turun murni mengikuti prosedur pasar. Pemerintah tidak sanggup mengontrol nilai tukarnya, tidak menyerupai yuan terhadap dolar AS. Pemerintah tidak suka sesuatu yang tidak sanggup diatur.

Mudah digunakan untuk penipuan
Bagi beberapa orang yang mengerti pergerakan Bitcoin, sanggup jadi investasi yang menguntungkan. Namun bagi yang tidak mengerti sanggup jadi ikut-ikutan dan menitipkan uangnya untuk beli Bitcoin lewat sembarang kawasan sehingga sanggup terjadi penipuan.

Merusak dunia investasi
Bitcoin berpotensi bubble dan pecah sehabis banyak makin terkenal dan banyak orang ingin punya. Terbukti dengan nilainya yang meroket dari Rp 10 juta menjadi Rp 60 juta hanya dalam waktu 8 bulan saja. Ketika gelembung pecah dan harga jatuh, investor akan dirugikan.

China jadi sentra transaksi mata uang virtual
Dua pasar Bitcoin terbesar dunia ada di China. Bayangkan berapa kerugian yang diderita China saat terjadi bubble dan pecah.

China ingin bikin uang virtual sendiri
Bukan mustahil China ingin menciptakan cryptocurrency sendiri yang sanggup legalitas pemerintah. Selama ini banyak hal tidak boleh di China, ujung-ujungnya mereka bikin sendiri.

Dipakai transaksi ilegal
Transaksi Bitcoin sulit dilacak. Hal itu dimanfatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk pembersihan uang, penjualan narkoba, penyelundupan, dan acara ilegal lainnya.
Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2