Debat Para Analis Kelas Dunia Soal Lonjakan Nilai Bitcoin

Debat Para Analis Kelas Dunia Soal Lonjakan Nilai Bitcoin

Foto: ReutersFoto: Reuters

Jakarta - Bubble sampai Ponzi ialah kata yang dipakai oleh pengkritik cryptocurrency selama satu tahun terakhir. Hal tersebut alasannya ialah pergerakan nilai tukar bitcoin terus merangkak dari awalnya di bawah US$ 1000 per keping sampai US$ 10.000 per keping.

Mengutip CNBC, CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon mengungkapkan bahwa cryptocurrency tidak akan sanggup bertahan usang di Amerika Serikat (AS).

Sejak awal tahun, mata uang virtual ini telah memperlihatkan imbal hasil lebih dari 900%. Seorang trader menyebutkan, kenaikkan harga bitcoin pada 2017 ini ialah pergerakan terbesar selama 40 tahun terakhir.

Berbeda dengan Dimon, Akademisi dan CEO Distilled Analytics David Shrier menyampaikan pada CNBC bahwa ia tidak ragu dengan potensi mata uang virtual ini.

"Ada utilisasi bitcoin yang sanggup menciptakan nilainya bertahan atau meningkat, meskipun ada kemungkinan harganya berkurang. Tapi bitcoin tidak akan kembali ke angka nol," kata ia dikutip dari CNBC, Kamis (30/11/2017).


Peneliti dari DFINITY Project Dominic Williams cukup skeptis terkait penawaran bitcoin di masa lalu. Dia menyebutkan hanya akan ada sebagian kecil dari proyek yang berpeluang untuk sukses dalam initial coin offering (ICO).

ICO ialah cara bagi perusahaan untuk mengumpulkan uang dengan imbalan uang konvensional atau uang digital.

"Sebagian besar memang diciptakan secara khusus, dan mereka berambisi untuk mengumpulkan uang dari investor yang antusias," terang dia.

Founder dan CEO Hedge Fund Citadel Ken Griffin mengkhawatirkan sejumlah investor mencampur blockchain dan bitcoin.

Blockchain ialah istilah umum untuk distribusi bitcoin. Blockchain sanggup merekam transaksi. Ini ialah teknologi dasar yang menciptakan cryptocurrency menyerupai bitcoin dan ethereum. Dia menyebut banyak orang yang membeli padahal tidak mengerti teknologi yang mendasarinya.


Shrier menjelaskan, bahwa ia tidak khawatir bahwa persoalan di cryptocurrency akan menghambat transaksi bank konvensional. Justru spekulasi tersebut sanggup membantu untuk menarik sumber gres modal ke daerah tersebut.

Sebagai mata uang digital, ia menjelaskan pergerakan harga bitcoin sangat tidak teratur. Ini alasannya ialah dipengaruhi oleh interaksi undangan yang spekulatif.

Dia mengkhawatirkan, kemungkinan beberapa orang yang masuk di awal dan menguasai transaksi justru menciptakan masalah. Ditakutkan ada denah piramida yang menciptakan pembeli awal semakin kaya dan orang lain kehilangan uang banyak.

Sementara itu, Fund Manager Michael Novigratz mengungkapkan justru ke depan ada kemungkinan bitcoin tembus US$ 40.000 pada selesai 2018.


Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2