Bi, Ojk, Sampai Mui Minta Masyarakat Hati-Hati Dengan Bitcoin

Bi, Ojk, Sampai Mui Minta Masyarakat Hati-Hati Dengan Bitcoin

Foto: Getty ImagesFoto: Getty Images

Jakarta - Nilai bitcoin bergerak fluktuatif di awal 2017 ini.Nilai bitcoin sempat tembus US$ 19.000 per keping., namun kini Sabtu (23/12/2017), nilai bitcoin melorot ke US$ 14.666 per keping atau setara Rp 197,9 juta (kurs 13.500/US$).

Pergerakan harga yang fluktuatif ini menciptakan bitcoin menjadi instrumen yang paling disorot di dunia, termasuk di Indonesia. Bank Indonesia (BI) tidak mengakui bitcoin sebagai alat pembayaran.

Sebab, sesuai Undang-undang mata uang, alat pembayaran yang sah ialah Rupiah. BI selaku otoritas sistem pembayaran mengaku, tidak bertanggung jawab dengan fluktuasi harga yang terjadi bila bitcoin masih dipakai masyarakat.


Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, Eni V Panggabean, menyampaikan nilai bitcoin kolam roller coaster yang naik dan turun dengan cepat.

"Hari ini dapat naik, besok turun ibarat roller coaster. Karena naik kini happy, kalau turun besok nangis. Nah ini tidak ada unsur pinjaman konsumennya, tidak ada otoritas yang mengatur, kami tidak bertanggung jawab bila terjadi apa-apa alasannya ialah kami tidak mengakui," ujar Eni pekan lalu, di Jakarta.

Sementara itu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyarankan masyarakat Indonesia untuk tidak berinvestasi bitcoin. Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sujanto menyampaikan peredaran uang digital ini tidak diatur di Indonesia.


Selain itu, fluktuasinya yang sangat tidak dapat diprediksi menciptakan risiko berinvestasi akan sangat tinggi karena tak ada satu negara pun yang mengendalikan mata uang digital ini.

"Tapi kalau ada orang yang transaksi bitcoin, kita enggak dapat melarang juga. Terserah investor. Tapi perlu diketahui, dikala nanti mengalami kerugian, jangan teriak-teriak. Karena kalau untung kan juga enggak ada yang teriak-teriak," katanya.

Selain otoritas keuangan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga turut menawarkan pandangan terkait bitcoin. MUI mengimbau kepada umat islam tidak bertransaksi memakai virtual currency ini.


Ketua Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis menjelaskan, dikala ini MUI sedang mengkaji bitcoin apakah termasuk alat investasi atau alat pembayaran. Kemudian, akreditasi dari pemerintah dan potensi penipuan di dalamnya.

"Hati-hati untuk bertransaksi di bitcoin, tapi tidak dapat menyampaikan MUI melarang alasannya ialah kita belum mengeluarkan fatwanya," ujar Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis, kepada detikFinance, Jumat (22/12/2017).

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2