Bikin Boros Listrik, China Bakal Tutup Tambang Bitcoin

Bikin Boros Listrik, China Bakal Tutup Tambang Bitcoin

Foto: Next SharkFoto: Next Shark

Jakarta - China berencana menutup tambang penghasil bitcoin dengan lantaran menciptakan konsumsi listrik menjadi lebih boros dan termasuk investasi yang beresiko. Hal ini sejalan dengan evaluasi pihak berwenang bahwa mata uang digital (cryptocurrency) bukanlah industri strategis.

Sejumlah institusi meminta pemerintah di tingkat provinsi untuk "secara aktif memandu" perusahaan di masing-masing daerah keluar dari industri penambangan mata uang bitcoin.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong penambang mata uang digital biar mengikut penutupan bursa dan pelarangan penawaran awal koin (ICO).


"Tambang bitcoin mengonsumsi banyak listrik dan juga mendorong spekulasi mata uang virtual," demikian pernyataan dalam dokumen pelarangan tersebut yang dikutip dari CNBC, Kamis (11/1/2018).

"Operasi penambangan berlawanan dengan upaya pencegahan resiko finansial dan mendorong acara menyimpang dari kenyataan kebutuhan ekonomi," ungkap pernyataan lainnya.

Sebagaimana diketahui, penambang menciptakan bitcoin gres dengan memecahkan aba-aba kompleks biar mendapat validasi transaksi bitcoin baru. Meski tak benar-benar menggunakan proses komputasi rumit, penambangan mata uang digital mengandalkan daya komputasi yang besar sehingga lebih ibarat industri pabrik dibandingkan bisnis tradisional berteknologi tinggi.

Sejumlah penambang bitcoin beroperasi di area terpencil tanpa mendaftarkan usahanya. Beberapa penambang juga mengabaikan peraturan setempat yang melarang konsumen membeli listrik pribadi dari produsen dibandingkan dengan operator grid.

Menurut salah satu penambang yang berbasis di Shenzen, Liao Xiang, tambang mata uang digital di China menyumbang tiga per empat dari distribusi bitcoin di seluruh dunia.

Selama ini para penambang telah mendapat manfaat dari murahnya harga listrik di daerah yang kaya akan batubara atau pembangkit listrik tenaga air, termasuk di Xinjiang, Mongolia, Sichuan dan Yunnan.

Industri penambangan mata uang digital secara global telah menelan 0,17% konsumsi listrik dari lebih 161 negara menurut data Digiconomist, situs yang melacak industri mata uang digital.

Pelarangan terhadap tambang mata uang digital ini berlawanan dengan seni administrasi China di ranah teknologi. Sebagaimana diketahui China mengungkapkan hasratnya untuk menjadi negara pemimpin dalam teknologi kecerdasan buatan dan robotik.

Satuan kiprah keuangan internet, termasuk People's Bank of China, sebelumnya telah memimpin upaya pengetatan peraturan derma peer-to-peer dan derma konsumen online.

Meski demikian seruan tersebut tak menyebutkan pemimpin daerah untuk menutup operasional secara langsung, namun lebih kepada mempersempit ruang gerak melalui kebijakan ketat soal konsumsi daya listrik, penggunaan tanah, pemungutan pajak dan hukum imbas lingkungan.

Dengan adanya hukum yang ketat, pengusaha tambang mata uang digital di China tengah mencari cara untuk memindahkan operasinya keluar negeri, memindahkan pabriknya, atau menjualnya.

Mengingat harga listrik dan iklim masbodoh biar mencegah komputer panas berlebih, negara ibarat Kanada, Islandia, Timur Eropa dan Rusia dapat menjadi destinasi selanjutnya.

Meski demikian diakui oleh pelaku bisnis tambang bitcoin, pemindahan "pabrik" ke negara lain bukanlah sesuatu yang mudah.

"Kesulitannya bahwa peraturan di negara lain membutuhkan waktu dan modal untuk membangun sentra data yang besar-besaran," ungkap Liao Xiang. "Ini perlu banyak pasokan listrik dan daerah industri yang tak banyak aturan," imbuhnya.

China sendiri bukanlah tempat yang cocok untuk mendirikan tambang mata uang digital.

Banyaknya tambang mata uang digital di Negeri Tirai Bambu tersebut disebabkan oleh rantai pasokan komponen komputer yang berkembang baik yang dipakai untuk penambangan.
Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2