Ekonomi Digital Berkontribusi Rp 2.000 Triliun Ke Ri Di 2025

Ekonomi Digital Berkontribusi Rp 2.000 Triliun Ke Ri Di 2025

Foto: istimewaFoto: istimewa

Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng menyampaikan perkembangan teknologi Indonesia dalam sistem layanan keuangan telah berkembang pesat. Perkembangan teknologi berkembang semenjak munculnya anjungan tunai berdikari atau ATM.

"Dalam konteks lainnya penggunaan teknologi layanan keuangan sudah dipakai mulai tahun 80-an, ATM hadir di Indonesia dengan layanan 24 jam. Menggantikan layanan konvensional ke bank," ujar Sugeng dalam Seminar Tren Ekonomi Digital: Era Transaksi Elektronik, Peluang dan Tantangan di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Mengutip data Mackenzie, berdasarkan Sugeng, ekonomi digital Indonesia sanggup berkontribusi sebanyak Rp 2.000 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di 2025.


"Bagi sebagian besar ekonomi, aspek digital berkontribusi berdampak pada PDB. Ekonomi digital diproyeksi bisa US$ 150 miliar (atau Rp 2.000 triliun, kurs Rp 13.500) bagi PDB Indonesia di 2025 dari data Mackenzie," sambungnya.

Ia memaparkan hal tersebut diprediksi sebab beberapa hal, pertama pengguna internet Indonesia lebih dari 130 juta orang. Sedangkan yang aktif sebanyak 124 juta orang.

Selain itu, ketika ini telah terjadi peningkatan jalan masuk internet sebanyak 39% dari rata-rata kecepatan jalan masuk 8,5 mbps menjadi 11 mbps.

"Terakhir besarnya porsi gen Y dan Z. Dan ini suatu manis bagi perkembangan ke depan dan terus berkembang," jelasnya.


Selain peluang tersebut, Sugeng juga menyinggung terkait dengan tantangan ekonomi digital di mana kini terdapat cyber security.

"Tantangan utama yang perlu diwaspadai ialah cyber security yang akhir-akhir ini marak. Beberapa waktu belakangan terjadi di belahan dunia, contohnya ransomeware yang minta tebusan di bitcoin," ungkapnya.

"Kemudian insiden pembobolan melalui swipe di bank sentral Bangladesh. Kita juga di bank di Malaysia dan serangan ransomeware di kota Atlanta oleh grup hacker dan minta tebusan," lanjutnya.


Tantangan kedua ialah fragmentasi industri. Saat ini masing-masing industri menciptakan penemuan teknologi digital tapi tidak terhubung satu sama lain. Ini menyebabkan inefisiensi dan menyulitkan masyarakat.

Contohnya, ibarat kartu tol. Dulu hanya bisa pakai bank tertentu misal bank mandiri. Ada yg khusus bca saja. Sekarang semua bisa terkoneksi satu sama lain.

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky J Pesik menyampaikan ketika ini pertumbuhan ekonomi kreatif rata-rata berada di angka 4,5% sampai 5%.

Bahkan, di 2016 bantuan sektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional 922 triliun. Lantas, di 2017 pihaknya meyakini bisa berkontribusi lebih dari Rp 1.000 triliun.

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2