18 Bulan Perang Dagang, As-China Jadinya Damai

18 Bulan Perang Dagang, As-China Jadinya Damai

18 Bulan Perang Dagang, AS-China Akhirnya Damai/Foto: Reuters18 Bulan Perang Dagang, AS-China Akhirnya Damai/Foto: Reuters

Jakarta - Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer menyampaikan pada Minggu (15/12) waktu setempat bahwa kesepakatan 'damai' perang dagang fase satu AS-China telah diselesaikan. Kesepakatan 'damai' ini telah dicapai oleh kedua belah pihak pada Jumat (13/12).

Melansir dari CNBC pada Senin (16/12/2019), pejabat AS dan China mengumumkan pada tamat pekan kemudian bahwa AS dan China hasilnya menyetujui perjanjian fase satu sehabis perang dagang selama 18 bulan.

Dalam kesepakatan tersebut, China menyampaikan kalau pihaknya akan meningkatkan nilai pembelian produk pertanian AS. Sementara itu di lain pihak, AS menyampaikan kalau pihaknya akan membatalkan pengenaan tarif gres terhadap barang ekspor China yang sebelumnya dijadwalkan akan diterapkan pada hari Minggu kemarin.

Namun, China baiklah untuk melaksanakan pembelian pertanian dari AS seharga miliaran dolar. Beijing menyampaikan akan secara substansial meningkatkan pembelian pertanian, tetapi tidak merinci berapa banyak. Meski demikian Robert menyampaikan bahwa perjanjian ini tetap akan meningkatkan nilai ekspor AS ke China sampai dua kali lipat.


"Kami mempunyai daftar yang akan diekspor berupa manufaktur, pertanian, jasa, energi dan sejenisnya. Akan ada total untuk masing-masing sektor," kata Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, sebagaimana dikutip dari CNBC.

"Secara keseluruhan, minimal nilai ini akan mencapai 200 miliar dolar. Perlu diingat, pada tahun kedua, kita sanggup meningkatkan hampir dua kali lipat nilai ekspor barang ke China, kalau perjanjian ini sudah ada. Ekspor ganda," jelasnya lagi.

Selain itu kedua negara tersebut dikabarkan telah berencana untuk menandatangani kesepakatan parsial pada ahad pertama di bulan Januari 2020 mendatang.



Meski demikian, banyak detail dari kesepakatan tersebut yang masih tampak keruh, termasuk perubahan perjanjian mengenai kekayaan intelektual, teknologi, dan layanan keuangan.

"Tetapi pada akhirnya, apakah seluruh perjanjian ini berhasil akan ditentukan oleh siapa yang menciptakan keputusan di China, bukan di Amerika Serikat," kata Robert.






Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2