Apa Yang Bikin Realisasi Energi Terbarukan Ri Memble?

Apa Yang Bikin Realisasi Energi Terbarukan Ri Memble?

Realisasi aksesori energi gres terbarukan di RI terbilang memble. Foto: Pradita UtamaRealisasi aksesori energi gres terbarukan di RI terbilang memble. Foto: Pradita Utama

Jakarta - Penambahan kapasitas energi terbarukan di Indonesia terbilang memble. Hingga final 2019, Indonesia gres bisa mencapai 385 Mega Watt (MW) dari sasaran 45 Giga Watt (GW) yang dicatatkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2025.

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengungkapkan rendahnya realisasi aksesori energi gres terbarukan ini tak lepas dari rendahnya realisasi investasi untuk pengembangan energi terbarukan ini. Menurut Fabby sampai sekarang nilai investasi di sektor energi gres terbarukan belum mencapai target.

"Investasi energi terbarukan terus turun dan ada di bawah sasaran yang sebetulnya dicanangkan dalam RPJMN maupun RENSTRA Kementerian ESDM pada tahun 2015," ujar Fabby dalam program peluncuran laporan tahunan Indonesia Clean Energy Outlook (ICEO) di The Energy, SCBD, Jakarta, Selasa (17/12/2019).


Capaian sasaran investasi energi terbarukan tahun ini gres mencapai US$ 1,17 juta dari total sasaran senilai US$ 1,8 juta. Selain tak capai target, 5 proyek dari total 75 proyek energi terbarukan yang telah menandatangani Power Purchase Agreements (PPAs) bahkan tercatat sudah diterminasi.

"Dan sejumlah proyek ET yang telah menandatangani PPA 2017-2018 masih mengalami kesulitan financial close," sambungnya.

Ia melanjutkan, problem utama yang dihadapi terkait rendahnya minat investasi ialah lantaran regulasi yang ditawarkan pemerintah dianggap kurang menarik di mata investor.

"Adapun yang menjadi pangkal alasannya lambannya pengembangan energi terbarukan dalam negeri ini ialah lantaran kebijakan dan regulasi yang tidak menarik bagi investor dan juga pengembang," tutur dia.


Selain itu, kemampuan finansial proyek yang juga kurang menjanjikan menciptakan beberapa proyek yang sudah diteken malah berujung dibatalkan oleh investor.

"Bankability proyek yang belum stabil sehingga menciptakan proyek-proyek yang sudah PPA (Power Purchase Agreements) pun sukar mendapat pendanaan dari perbankan dan dari forum keuangan," tuturnya.

Terakhir, tahun politik yang dilalui sepanjang tahun 2019 Indonesia pun turut mempengaruhi.

"Tahun politik, yang di tahun ini kita mengalami pemilihan umum, sehingga menciptakan para pelaku perjuangan dan investor itu kebanyakan menentukan wait and see," imbuhnya.

Simak Video "Pesisir Jawa Tengah Terancam Tenggelam"
[Gambas:Video 20detik]

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2