Barang Impor China Banjiri Ri, Hajar Balik Pakai Bea Masuk!

Barang Impor China Banjiri Ri, Hajar Balik Pakai Bea Masuk!

Foto: agung pambudhyFoto: agung pambudhy

Jakarta - Barang-barang impor makin masif menyerbu Indonesia. Banyak dari barang impor ini yang bebas bea masuk sehingga merugikan negara.

Untuk itu, tahun kemudian Kementerian Keuangan merilis Peraturan Menteri Keuangan No 112/PMK.04/2018 perihal Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan No 182/PMK.04/2016 perihal Ketentuan Impor Barang Kiriman.

Dengan adanya peraturan itu, maka barang bebas bea masuk yang awalnya tidak lebih dari US$ 100 sekarang menjadi tidak lebih dari US$ 75. Jika harganya di atas US$ 75 maka kena bea masuk.

Tujuan perubahan ini yakni melindungi kepentingan nasional sehubungan dengan meningkatnya volume impor barang melalui prosedur impor barang kiriman dan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri.

Kini, ada wacana pemerintah bakal kembali menurunkan ambang batas tersebut. Kalau diturunkan, maka barang pengiriman yang murah sekali pun bakal kena bea masuk.

"Mungkin kita revisi, sebab (batas) US$ 75 mengganggu produk dalam negeri," tegas Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, kemarin.

Seperti dikutip dari riset CNBC Indonesia, jikalau benar pemerintah akan menurunkan ambang batas pengiriman yang kena bea masuk, maka dapat berdampak aktual terhadap industri dalam negeri. Impor yang dimudahkan, terutama buat barang konsumsi, mengakibatkan persaingan yang tidak sehat yang dapat mematikan industri nasional.

Jika industri nasional mati suri sebab terpukul barang impor, maka setiap kenaikan seruan tidak akan dapat dipenuhi dari dalam negeri. Lagi-lagi harus impor, bahkan untuk barang yang remeh-temeh.


Pembengkakan impor menciptakan devisa yang 'terbakar' semakin banyak sehingga neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) tertekan. Akibatnya, fondasi rupiah menjadi ringkih dan mata uang Tanah Air cenderung melemah.

Kala rupiah melemah, Bank Indonesia (BI) tentu tidak tinggal diam. Salah satu upaya yang dilakukan BI yakni menaikkan suku bunga contoh untuk menarik arus modal di sektor keuangan semoga dapat menambal 'lubang' yang menganga di pos ekspor-impor barang dan jasa.

Kenaikan suku bunga contoh mungkin dapat menstabilkan rupiah. Namun yang menjadi tumbal yakni konsumsi dan investasi, sebab suku bunga kredit perbankan tentu akan ikut terkerek. Biaya perluasan menjadi mahal, sehingga pertumbuhan ekonomi sulit dipacu lebih kencang.

Jangan hingga semua jadi pedagang barang impor!


Simak Video "Barang Impor Ilegal Miliaran Rupiah di Surabaya Dimusnahkan"
[Gambas:Video 20detik]

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2