Forum Global Perdagangan Berjangka Siap Bahas Potensi Pasar 2020

Forum Global Perdagangan Berjangka Siap Bahas Potensi Pasar 2020

Foto: istimewaFoto: istimewa

Jakarta - Sebagai salah satu bentuk investasi di antara bermacam-macam pilihan Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) kian menarik perhatian para pengelola dana. Jumlah investor PBK pun terus meningkat seiring signifikannya potensi laba dari produk yang ditransaksikan di Bursa Berjangka.

Berdasarkan undang-undang No. 10/2011 amandemen dari undang-undang No. 32/1997 wacana Perdagangan Berjangka Komoditi menyatakan bahwa PBK yakni segala sesuatu yang berkaitan jual beli komoditas dengan penarikan margin dengan penyelesaian lalu menurut kontrak berjangka, kontrak derivatif syariah dan atau kontrak derivatif lainnya.

Dalam hal ini, komoditi merupakan sesuatu yang sanggup dijadikan sebagai subyek kontrak berjangka untuk derivatif syariah dan atau kontrak derivatif lainnya yang diatur dengan peraturan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Komoditi yang ditransaksikan pun aneka macam macam, mulai dari produk primer ibarat produk pertanian, pertambangan, dan energi, hingga aneka macam produk finansial ibarat indeks saham dan mata uang absurd atau yang lebih dikenal dengan foreign exchange (forex).

Meningkatnya minat masyarakat untuk terlibat dalam PBK ditandai dengan adanya tren lonjakan volume transaksi kontrak multilateral dan kontrak Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) baik di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) maupun Bursa Berjangka Derivatif Indonesia (BKDI) dalam beberapa tahun terakhir.

Data Bappebti memperlihatkan bahwa transaksi BBJ dan BKDI pada 2016 mencapai 7.012.220 lot atau meningkat 6,40% dari tahun sebelumnya. Pada 2018, peningkatannya mencapai 25,20% atau menjadi 8.821.762 lot.

Adapun volume transaksi kontrak berjangka pada Januari hingga dengan Agustus 2019 tercatat sebesar 7.043.116 Lot. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat seiring masifnya upaya sosialisasi dan edukasi terkait pilihan investasi PBK.

Untuk melihat lebih jauh potensi PBK dan sebagai upaya mengedukasi masyarakat, PT Mentari Mulia Berjangka, pialang resmi terkemuka di perdagangan berjangka derivatif, menyelenggarakan "Indonesia Derivative Reach International Market" Summit 2019.

Direktur Utama PT Mentari Mulia Berjangka Ofik Taufiqurohman menyampaikan pihaknya berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat soal derivatif dan perdagangan berjangka.

"Mentari Mulia Berjangka bersinergi dan berkomitmen untuk terus melanjutkan edukasi wacana derivatif dan perdagangan berjangka demi menyebarkan potensi pasar derivatif di Indonesia hingga internasional. Kami berkomitmen membangun dan memperkuat SDM yang handal serta menciptakan penemuan gres dalam pelayanannya kepada nasabah, biar sanggup lebih kompetitif di dunia perdagangan berjangka komoditi. juga terus memperlihatkan sosialisasi dan edukasi perihal perdagangan berjangka komoditi kepada masyarakat umum" kata Ofik dalam keterangannya, Jumat (6/12/2019).

Forum internasional ini menghadirkan pembicara bertaraf global di bidang bursa berjangka antara lain Lawrence Kook, Director of Cambodia Derivative Exchange; Du Liqun, Deputy Director of China Credit Research Center, dan Sou Socheat yang menjabat sebagai President Director of Securities and Exchange Commission of
Cambodia.

Panel diskusi tersebut membahas potensi pasar berjangka atau derivatif dengan bermacam-macam produknya pada 2020. Tidak hanya di Indonesia, potensi PBK di sejumlah negara Asia Tenggara pun terbuka.

Apalagi, baik BBJ terus memperluas kolaborasi dengan beberapa bursa berjangka luar negeri. Harapannya, investor absurd akan semakin banyak masuk ke perdagangan berjangka dalam negeri.

Kendati demikian, tidak hanya untuk memperdagangkan kontrak berjangka dari bursa luar ke dalam negeri, tetapi kolaborasi ini juga berpotensi menciptakan kontrak komoditas dalam negeri sanggup diperdagangkan juga di luar negeri, khususnya di Asia Tenggara.

Jika karenanya minat investor absurd menciptakan perdagangan bursa berjangka menjadi ramai, maka Indonesia semakin cepat mencapai mimpi untuk menjadi contoh harga komoditas dunia.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar di dunia untuk beberapa komoditas, ibarat kelapa sawit, karet, nikel, dan timah sehingga potensi untuk menjadi harga contoh komoditas sangat besar.

Selain panel diskusi, dalam lembaga internasional itu PT Mentari Mulia Berjangka Peking University akan menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) terkait pertukaran informasi dalam penelitian dan data di bidang derivatif dan perdagangan berjangka.

Nota kesepahaman juga akan diteken antara PT Mentari Mulia Berjangka dengan First Gold sebagai penasihat dan konsultan di perdagangan berjangka. Sejumlah janji itu diarahkan kepada pengembangan PBK dalam negeri dan edukasi kepada masyarakat luas.

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2