Mau Tekan Impor Baja, Joko Widodo Harus Bereskan Dulu Tumpang Tindih Aturan

Mau Tekan Impor Baja, Joko Widodo Harus Bereskan Dulu Tumpang Tindih Aturan

Anggota Komisi VI dewan perwakilan rakyat Andre Rosiade/Foto: Ari SaputraAnggota Komisi VI dewan perwakilan rakyat Andre Rosiade/Foto: Ari Saputra

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pentingnya akselerasi implementasi agenda perindustrian dan perdagangan untuk menekan impor besi dan baja. Pihak dewan perwakilan rakyat pun menyambut baik kebijakan tersebut sebab akan mendorong peningkatan produksi dalam negeri.

"Saya mendukung 100% perintah Presiden Jokowi untuk menekan impor dan mendorong pengembangan industri pengolahan dalam negeri menyerupai pada industri baja dan petrokimia," ujar Anggota Komisi VI DPR, Andre Rosiade, dalam keterangan tertulis, Jumat (13/12/2019).

Menurut Andre, prioritas dikala ini ialah pembenahan regulasi bukan sekedar masuknya investasi asing.

"PR besar kita ialah regulasi bukan sekedar masuknya investasi asing. Regulasi yang ada antar kementerian seringkali tumpang tindih. Saya contohkan pada Industri baja, di mana kita ingin supaya industri baja kita berpengaruh tetapi ternyata ada Permendag 22/2018 yang mempermudah impor baja dari Tiongkok. Percuma kita melaksanakan restrukturisasi besar-besaran hingga Rp 40 triliun pada Krakatau Steel kalau regulasi tidak mendukung," Jelas Andre.


Dalam mengatasi defisit neraca perdagangan, selain menggalakkan ekspor, menekan impor juga perlu dilakukan. Oleh sebab itu, mendorong tumbuhnya industri substitusi impor ialah suatu keharusan.

"Seperti yang sudah disampaikan oleh Pak Presiden Jokowi nilai impor kita dari baja dan petrokimia mencapai US$ 13,5 Miliar, ini angka yang sangat besar. Seandainya kita dapat mencari substitusi impornya saya yakin neraca perdagangan kita akan lebih baik". Jelas Politisi asal Sumatera Barat ini.

Selain soal regulasi yang perlu saling dukung, Andre menekankan wacana pentingnya membangun industri masa depan.


Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2