Pengusaha Minta Pemerintah Kaji Lagi Harga Jual Kerikil Bara Dmo

Pengusaha Minta Pemerintah Kaji Lagi Harga Jual Kerikil Bara Dmo

Foto: Rachman HaryantoFoto: Rachman Haryanto

Jakarta - Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) meminta pemerintah mengkaji kembali harga jual watu bara dalam negeri (domestic market obligation/DMO). Saat ini, harga jual watu bara DMO dipatok sebesar US$ 70 per ton.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia menyampaikan kebijakan tersebut tidak adil. Pasalnya, ketika harga watu bara berada. di atas US$ 70 per ton, maka perusahaan menjualnya harus sesuai harga DMO. Sedangkan jikalau harga watu bara ibarat ketika ini berada di bawah US$ 70 per ton, maka mengikuti harga pasar atau tak lagi mengacu ke DMO.

"Kalau harga pasar tinggi di atas US$ 70 per ton, pengusaha jual US$ 70. Kalau harganya di bawah US$ 70 per ton ya PLN beli harga pasar," ujar Hendra kepada detikcom, Kamis (12/12/2019).

Hendra menilai kebijakan tersebut merugikan pengusaha. Padahal kebijakan DMO watu bara ditetapkan kala itu untuk menjamin kelangsungan bisnis PLN.


"Sekarang sama-sama lezat aja. PLN kan udah untung," ujarnya.

Mengutip CNBC Indonesia, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menandakan DMO watu bara ketika ini masih dievaluasi. Namun yang niscaya DMO watu bara 2019 sebesar 25% masih tetap.

"Harga lagi dievaluasi, ya ini [US$ 70] lagi dibahas agar keputusannya balance dengan siapa pun. Masih di level penilaian enggak dapat nyebutin," paparnya.

Sebagai informasi HBA bulan Desember 2019 tercatat US$ 66,3 per ton naik tipis 0,045% dari bulan November senilai US$ 66,27 per ton.



Simak Video "Banjir Rendam Tambang Batu Bara, 4 Penambang Tewas"
[Gambas:Video 20detik]

Sumber detik.com

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama
Header Ads
Ads2